BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Aliran humanistik muncul
pada tahun 90-an sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap pendekatan psikoanalisa
dan behabvioristik. Sebagai sebuah aliran dalam psikologi, aliran ini boleh
dikatakan relative masih muda, bahkan beberapa ahlinya masih hidup dan terus-menerus
mengeluarkan konsep yag relevan dengan bidang pengkajian psikologi, yang sangat
menekankan pentingnya kesadaran, aktualisasi diri, dan ha-hal yang bersifat
positif tentang manusia.
Pengertian
humanistik
yang beragam membuat batasan-batasan aplikasinya dalam dunia pendidikan yang
beragam pula. Teori humanisme menyatakan bahwa bagian terpenting dalam proses
pembelajaran adalah unsure manusianya. Humanisme lebih melihat sisi
perkembangan kepribadian manusia dibandingkan berfokus pada “ketidaknormala”atau
“sakit”.manusia akan mempunyai kemampuan positif untuk menyembuhkan diri dari
“sakit” tersebut, sehingga sisi positif inilah yang ingin dikembangkan oleh
teori humanistik.
Teori belajar humanistik
bertujuan bahwa belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar
dianggap berhasil jika telah memhami lingkungan dan dirinya sendiri. Teori
belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya
bukan dati sudut pandang pengamatnya. Teori belajar ini sifatnya lebih abstrak dan
lebih mendekati bidang ilmu filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi
dibanding tentang psikologi belajar. Teori humanisme lebih mementingkan isi
yang dipelajari dari pada proses belajar itu sendiri. Teori belajar ini lebih
banyak berbicara tentang konsep-konsep pendidikan unttuk membentuk manusia yang
dicita-citakan serta tentang proses belajar dalam bentuk yang paling ideal.
Selain
teori behavioristik dan teori kognitif, teori belajar humanisme juga perlu
untuk dipahami. Menurut teori humanisme, proses belajar harus dimulai dan
ditunjukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri. Oleh sebab itu,
teori humanisme sifatnya lebih abstrak dan mendekati bidang kajian filsafat,
teori kepribadian, dan psikoterapi dari pada bidang kajian psikologi belajar.
Teori humanisme sangat mementingkan isi yang dipelajari daripada proses belajar
itu sendiri. Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep
pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan, serta tentang proses
belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih
tertarik pada pemahaman tentang prosesbelajar sebagaimana apa adanya, seperti
yang selama ini dikaji oleh teori-teori belajar lainnya.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan teori belajar humanistik ?
2.
Bagaimana teori belajar humanistik menurut para tokoh ?
3.
Bagaimana implikasi teori belajar humanistik ?
4.
Bagaimana aplikasi teori humanistik terhadap pembelajaran siswa ?
5.
Bagaimana manfaat teori belajar humanistik ?
6.
Bagaimana kelemahan dan kelebihan teori belajar humanistik ?
1.3
Tujuan Masalah
1.
Mengetahui pengertian teori belajar humanistik
2.
Mengetahui dan memahami teori belajar humanistik menurut para tokoh
3.
Mengetahui implikasi teori belajar humanistik
4.
Mengetahui aplikasi teori humanistik terhadap pembelajaran siswa
5.
Mengetahui manfaat teori belajar humanistik
6.
Mengetahui kelemahan dan kelebihan teori belajar humanistik
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Teori Humanistik
Humanisme berasal dari latin, humanis; manusia, dan isme berarti
pahamatau aliran. Mangun Harjana mengatakan, pengertian humanisme adalah
pandangan yang menekankan martabat manusia dan kemampuannya. Menurut pandangan
ini manusia bermartabat luhur, mampu menentukan nasib sendiri dan dengan
kekuatan sendiri mampu mengembangkan diri dan memenuhi kepatuhan sendiri mampu
mengembangkan diri dan memenuhi kepenuhan eksistensinya menjadi paripurna.
Dari segi bahasa humanisme artinya kemanusiaan, sedangkan menurut Istilah
berarti suatu paham mengenai kemanusiaan yang hakiki. Jelasnya, humanisme
adalah suatu gerakan atau aliran yang bertujuan untuk menempatkan manusia pada
posisi kemanusiaan yang sebenarnya. Jika dalam dunia pendidikan, para pendidik
harus membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing
individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan
membantunya dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada pada diri mereka (Hamachek, 1977)[1].
Teori pendidikan adalah merupakan suatu pandangan atau serangkaian pendapat
ihwal pendidikan yang diidealkan yang disajikan dalam bentuk sebuah sistem
konsep dan dalil. Ada juga yang mengatakan teori pendidikan adalah serangkaian
konstruk (konsep), definisi, asumsi dan proposisi tentang cara merubah sikap
dan tingkah laku seseorang dalam rangka mewujudkan manusia yang adil dan
beradab.
Teori Humanistik lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia
atau individu.Psikolog humanistik mencoba untuk melihat kehidupan manusia
sebagaimana manusia melihat kehidupan mereka. Mereka berfokus pada kemampuan
manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional untuk dalam mengendalikan
hasrat biologisnya, serta dalam meraih potensi maksimal mereka. Dalam pandangan
humanistik, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta
mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.
Menurut para tokoh aliran ini penyusunan dan pemilihan materi pelajaran
harus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa. Tujuan utama pendidik adalah
membantu siswa mengembangkan dirinya yaitu membantu individu untuk mengenal
dirinya sendiri sebagai manusia secara utuh dan membantu mengembangkan potensi
dan keterampilan mereka. Para ahli humanistikk melihat adanya dua bagian pada
proses belajar yaitu proses pemerolehan informasi baru dan internalisasi informasi
ini pada individu. Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil
jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses
belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri
dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar
dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Pengertian
humanistik yang beragam membuat batasan-batasan aplikasinya dalam dunia
pendidikan mengundang berbagai macam arti pula.Para ahlihumanistikmelihatadanyaduabagianpada proses belajar, ialah : proses pemerolehan informasi baru dan personalia informasi ini pada individu.
Perhatian Psikologi Humanistik yang utama tertuju pada masalah bagaimana
setiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang
mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Menurut para
pendidik aliran humanistik, penyusunan dan penyajian materi pelajaran harus
sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa.
2.2
Para Tokoh Pelopor Teori Humanistik
Perspektif psikologi
baru yang dipelopori oleh beberapa orang yang mengembangkan ilmu psikologi
muncul pada tahun 1940. Perkembangan gerakan ini cukup pesat sehingga di kenal
dengan Psikologi Humanistik. Psikologi
Humanistik sendiri lebih menitik beratkan terhadap individu seseorang.
Aliran Humanistik
muncul dalam kisaran tahun 1960-1972. Kemudian muncul beberapa perubahan dan
inovasi baru sampai dekade terakhir. Adapun tokoh – tokoh yang mempelopori
psikologi humanistik yang digunakan sebagai teori belajar humanisme sebagai
berikut :
1.
Abraham Maslow
Maslow percaya bahwa manusia bergerak untuk memahami dan menerima dirinya
sebisa mungkin. Teorinya yang paling di kenal adalah teori
tentang Hierarchy of Needs ( Hirarki kebutuhan ). Dia
mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan
yang bersifat hirarkis. Pada diri orang memiliki rasa takut yang dapat
membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain
memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan. Manusia juga bermotivasi
untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan hidupnya. Kebutuhan – kebutuhan tersebut
memiliki hirarki ( tingkatan ) mulai dari yang rendah sampai yang tinggi.
Sebagian besar dari
teorinya yang penting didasarkan atas asumsi bahwa dalam diri manusia ada dua
hal:
·
Suatu usaha yang positif untuk berkembang.
·
Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu (Maslov, 1968)
2.
Arthur Combs
Bersama dengan Donald
Syngg ( 1904 – 1967 ) mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia
pendidikan. Meaning ( makna atau arti ) konsep sering yang di
gunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa
memaksakan materi yang tidak di sukai atau tidak relevan dengan kehidupan
mereka. Untuk itu guru harus memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami
dunia persepsi siswa tersebut, sehingga apabila merubah perilakunya, seorang
guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada.
Combs berpendapat bahwa
banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila
materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti
tidak menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang terpenting adalah
bagaimana membawa siswa untuk memperoleh arti bagi kepribadiannya dari materi
pelajaran tersebut dan menghubungkan dalam kehidupan. Combs memberikan persepsi
diri dan dunia seseorang seperti dua lingkaran ( kecil dan besar ).
3.
Carl Roger
Adalah seorang psikolog humanistik yang menekankan perlunya sikap saling
menghargai dan tanpa prasangka dalam membantu mengatasi masalah – masalah
kehidupannya.[2] Menurutnya
hal yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru
memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran yaitu :
·
Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa
tidak harus belajar tentang hal – hal yang tidak ada artinya.
·
Siswa akan mempelajari hal – hal yang bermakna bagi dirinya.
Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru
sebagai bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
·
Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide
baru sebagai bahan yang bermakna bagi siswa.
·
Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang
proses.
Dari
bukunya Freedom to learn, ia menunjukan sejumlah prinsip – prinsip yang
terpenting adalah :
·
Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
·
Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid
mempunyai relevansi dengan maksud – maksud tersendiri.
·
Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya
sendiri di anggap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
·
Belajar yang bermakna di peroleh siswa dengan melakukanya.
·
Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut
bertanggung jawab terhadap proses belajar itu.
Bagaimana proses
belajar dapat terjadi menurut teori belajar humanisme? Orang balajar karena
ingin mengetahui dunianya. Individu memilih sesuatu untuk dipelajari,
mengusahakan proses belajar dengan caranya sendiri, dan menilainya sendiri
tentang apakah proses belajarnya berhasil.
4. Bloom dan Krathwohl
Dalam hal ini, Bloom
dan Krathwohl menunjukkan apa yang mungkin dikuasai (dipelajari) oleh siswa,
yang tercakup dalam tiga kawasan berikut:
a)
Kognitif
Kognitif terdiri dari
tiga tingkatan:
1. Pengetahuan (
mengingat, menghafal );
2. Pemahaman (
menginterpretasikan );
3. Aplikasi ( menggunakan
konsep untuk memecahkan suatu masalah );
4. Analisis ( menjabarkan
suatu konsep );
5. Sintesis (
menggabungkan bagian konsep menjadi suatu konsep utuh);
6. Evaluasi (
membandingkan ide, nilai, metode, dsb ).
b)
Psikomotor
Psikomotor terdiri dari
lima tingkatan, yaitu:
a. Peniruan ( menirukan
gerak );
b. Penggunaan (
menggunakan konsep untuk melakukan gerak );
c. Ketepatan ( melakukan
gerak dengan benar );
d. Perangkaian ( melakukan
beberapa gerakan sekaligus dengan benar );
e. Naturalisasi (
melakukan gerak secara wajar ).
c)
Afektif
Afektif terdiri dari
lima tingkatan, yaitu:
a. Pengenalan ( ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu );
b. Merespon ( aktif berpartisipasi );
c. Penghargaan ( menerima nilai-nilai, setia kepada nilai-nilai tertentu);
d. Pengorganisasian ( menghubungkan nilai-nilai yang dipercayai );
e. Pengalaman ( menjadikan nilai sebagai bagian dari
pola hidup ).
5.
Kolb
Sementara itu, Kolb
membagi tahapan belajar menjadi empat tahap, yaitu:
a.
Pengalaman konkret
Pada tahap ini seorang siswa
hanya mampu sekedar ikut mengalami suatu kejadian. Dia belum mempunyai
kesadaran tentang hakikat kejadian tersebut. Dia pun belum mengerti bagaimana
dan mengapa suatu kejadian harus terjadi seperti itu.
b.
Pengalaman aktif dan reflektif
Siswa lambat laun mampu
mengadakan observasi aktif terhadap kejadian itu, serta mulai berusaha
memikirkan dan memahaminya.
c.
Konseptualisasi
Siswa mulai belajar
untuk membuat abstraksi atau “teori” tentang sesuatu hal yang pernah
diamatinya. Pada tahap ini siswa diharapkan sudah mampu untuk membuat
aturan-aturan umum ( generalisasi ) dari berbagai contoh kejadian yang meskipun
tampak berbeda-beda, tetapi mempunyai landasan aturan yang sama.
d.
Eksperimentasi aktif
Siswa sudah mampu
mengaplikasikan suatu aturan umum ke situasi yang baru. Dalam dunia matematika
misalnya, siswa tidak hanya memahami “ asal-usul” sebuah rumus, tetapi ia juga
mampu memakai rumus tersebut untuk memecahkan suatu masalah yang belum pernah
ia temui sebelumnya.
6.
Honey dan Mumford
Berdasarkan teori Kolb ini, Honey dan Mumford menggolongkan siswa menjadi
empat tipe, yakni:
a. Aktivis
Ciri dari siswa ini
adalah suka melibatkan diri pada pengalaman-pengalaman baru dan cenderung
berpikiran terbuka serta mudah diajak berdialog. Namun, siswa seperti ini
biasanya kurang skeptis terhadap sesuatu. Dalam belajar mereka menyukai metode
yang mampu mendorong seseorang menemukan hal-hal baru,
seperti brainstorming atau problem solving. Akan tetapi mereka cepat
merasa bosan dengan hal-hal yang perlu waktu lama dalam implementasi.
b. Reflektor
Siswa tipe ini
cenderung sangat berhati-hati mengambil langkah sehingga dalam mengambil
keputusan mereka lebih suka menimbang-nimbang secara cermat baik buruknya.
c. Teoris
Siswa tipe ini biasanya
sangat kritis, senang menganalisis, dan tidak menyukai pendapat atau penilaian
yang sifatnya subjektif. Berpikir rasional adalah sangat penting. Dan mereka
cenderung sangat skeptis dan tidak suka hal-hal yang spekulatif.
d.
Pragmatis
Siswa pada tipe ini
menaruh perhatian besar pada aspek-aspek praktis dari segala hal. Bagi mereka
teori memang penting, tapi tidak akan berguna jika tidak dipraktekkan.
2.3
Implikasi Teori Belajar Humanistik
Carl Rogers
Menurut Wahyudin (2009), Psikologi humanistik Carl Rogers memberi
perhatian atas guru sebagai fasilitator. Berikut ini adalah berbagai cara untuk
memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas fasilitator. Ini merupakan
ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa (petunjuk):
1.
Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana
awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas.
2.
Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan
perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
3.
Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk
melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan
pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
4.
Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar
yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai
tujuan mereka.
5.
Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel
untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
6.
Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan
menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan
mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun
bagi kelompok.
7.
Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator
berangsur-angsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut
berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya
sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
8.
Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya
dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi
sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh
siswa .
9.
Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan
adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar.
10.
Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus
mencoba untuk mengenali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.
Berikut salah satu contoh Implikasi teori belajar humanistik Rogers
terhadap metode pembelajaran sains dimana dalam pembelajaran sains lebih
menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai
metode-metode yang diterapkan dalam proses pembelajaran sains yang lebih
menekankan pada pembawaan metodenya. Seperti metode tanya jawab, metode
diskusi, metode pemecahan masalah, dan metode demonstrasi. Sehingga posisi guru
menjadi fasilitator, motivator, dan stimulator. Guru hanya memfasilitasi
pembelajaran peserta didiknya untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Wartawarga (2009) mengemukakan Kelemahan atau kekurangan pandangan
Rogers terletak pada perhatiannya yang semata – mata melihat kehidupan diri
sendiri dan bukan pada bantuan untuk pertumbuhan serta perkembangan orang lain.
Rogers berpandangan bahwa orang yang berfungsi sepenuhnya tampaknya merupakan
pusat dari dunia, bukan seorang partisipan yang berinteraksi dan bertanggung
jawab di dalamnya.
Selain itu gagasan bahwa seseorang harus dapat memberikan respon secara realistis terhadap dunia sekitarnya masih sangat sulit diterima. Semua orang tidak bisa melepaskan subyektivitas dalam memandang dunia karena
kita sendiri tidak tahu dunia itu secara obyektif. Rogers juga mengabaikan aspek-aspek
tidak sadar dalam tingkah laku manusia lebih melihat pada pengalaman masa sekarang
dan masa depan, bukannya pada masa lampau yang biasanya penuh dengan pengalaman
traumatik yang menyebabkan seseorang mengalami suatu penyakit psikologis.
2.4
Aplikasi Teori Humanistik terhadap Pembelajaran Siswa
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit
selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran
guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa
sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan
siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa
untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Siswa berperan sebagai pelaku
utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri.
Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara
positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil
belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
1.
Merumuskan tujuan belajar yang jelas.
2.
Mengusahakan partisipasi aktif siswa
melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif.
3.
Mendorong siswa untuk mengembangkan
kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri.
4.
Mendorong siswa untuk peka berpikir
kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri.
5.
Siswa di dorong untuk bebas
mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang
diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan.
6.
Guru menerima siswa apa adanya,
berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi
mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses
belajarnya.
7.
Memberikan kesempatan murid untuk
maju sesuai dengan kecepatannya.
8.
Evaluasi diberikan secara individual
berdasarkan perolehan prestasi siswa.
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterpkan
pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati
nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari
keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif
dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas
kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak
terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara
bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan ,
norma , disiplin atau etika yang berlaku.
2.5
Manfaat Teori Belajar Humanistik
Tujuan
belajar menurut teori belajar Humanistik adalah untuk memanusiakan manusia
sehingga tugas utama para pendidik ialah membantu para siswa-siswinya untuk
mengembangkan potensi diri para siswa, para pendidik membantu masing-masing
individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan
membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang mereka miliki sehingga pada
akhirnya para siswa dituntut untuk berusaha agar lambat laun mampu mencapai
aktualisai diri dengan sebaik-baiknya.Teori humanisme dapat memanfaatkan teori
belajar apapun asal tujuannya memanusiakan manusia yang membuat teori belajar Humanisme
bersifat sangan eklektik, maksudnya elektisisme suatu sistem yang membiarkan
unsur-unsur tersebut dalam keadaan
sebagaimana adanya atau aslinya sehingga teori humanisme ini akan memanfaatkan
teori-teori apapun asal tujuanya tercapai yaitu memanusiakan manusia.
Para ahli
psikologi humanisme ini melihat dua bagian belajar, yaitu diperoleh informasi
baru yang mana dapat membuat peserta didik atau siswa tertarik dan membut para
siswa bersemangat apabila dalam belajar ini akan ada suatu informasi yang baru
yang bermakna dan bermanfaat bagi para siswa. Kedua adalah personalisasi
informasi baru dimana informasi baru yang dipahami peserta didik itu bukan
hasil transfer langsung dari guru ke para siswa namun para siswa sendirilah
yang mengolah apa yang disampaikan oleh guru menjadi sesuai dan bermakna
sehingga peran pendidik disini adalah sebagai pembimbing yang mengarahkan.
Menurut Carl R. Rogers berdasarkan prinsip-prinsip belajar yang
dikemukakannya, manfaat teori belajar humanisme ini akan membuat hasrat alamiah
manusia untuk belajar lebih tinggi karena mereka diberikan kesempatan untuk
mengeksplorasi lingkungan dan membuat rasa keingintauannya tinggi. Kelebihan teori belajar humanistik cocok untuk di
terapkan dalam materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan pribadi,
hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator
dari keberhasilannya adalah siswa merasa senang bergairah berinisiatif dalam belajar
dan terjadi perubahan pola pikir perilaku atas kemauan sendiri.
Dalam teori belajar humanisme juga menitikberatkan pada metode student-centered,dengan mengaplikasikan
"komunikasi antar pribadi"
yang berpusat pada peserta didik untuk mengembangkan potensi-potensi
yang dimiliki peserta didik agar dapat memecahkan permasalahan yang dihadapi
dalam suatu kehidupan. Jadi yang terpenting bukan hasil dari belajar melainkan
proses suasana (emotional approach) dalam pembelajaran tersebut, jadi
para siswa dapat belajar tidak hanya dengan mendengar penjelasan guru, namun
dapat juga dengan melihat, menyentuh, merasakan dan mengikuti keseluruhan
proses dari setiap pembelajaran. Seorang
pendidik harus lebih responsif terhadap kebutuhan kasih sayang dalam proses pendidikan
agar menciptakan perasaan gembira, tidak tertekan, nyaman adalah hal yang
dinginkan dalam proses pembelajaran. (Wahyudin, 2009).
Manfaat yang didapat dari menerapkan teori ini adalah peserta didik
dapat belajar atas inisiatif sendiri dan melibatkan perasaan si pelajar
sehingga memberikan motivasi dan mengulurkan kesempatan kepada para siswa
untuk “belajar bagaimana caranya
belajar” (to learn how to learn). Meningkatkan kepercayaan terhadap diri sendiri,
kemerdekaan, kreativitas, diarahkan untuk belajar secara aktif, peka berpikir
kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri, menghargai kelebihan dan
memahami kekurangan pada dirinya, siswa bebas mengemukakan pendapat, memilih
pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko
dariperilaku yang ditunjukkan, siswa diharapkan menjadi
manusia yang bebas, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur
pribadinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain
atau melanggar aturan, norma, disiplin atau etika yang berlaku.
Disini para siswa belajar tidak untuk mengejar nilai, namun lebih
untuk memanfaatkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Menjadikan peserta
didik memiliki logika berpikir yang baik, mencermati alam lingkungannya menjadi
media belajarnya dengan metode action learning dan diskusi. Para siswa dapat
belajar dari alam sekitarnya tidak hanya belajar di kelas dan dari buku namun
bisa belajar dari mana saja.
Dengan sistem belajar dalam sekolah alam yang telah membiasakan
mereka untuk belajar secara aktif dan mandiri, membuat guru lebih mengarahkan
siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan
keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar. Hal ini dapat diterapkan
melalui kegiatan diskusi, membahas materi secara berkelompok sehingga siswa
dapat mengemukakan pendapatnya masing-masing di depan kelas. Guru memberi
kesempatan kepada siswa untuk bertanya apabila kurang mengerti terhadap materi
yang diajarkan.Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk
diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan
kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena
sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang
bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir,
perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. (Sanusi, 2009)
2.6
Kelemahan dan Kelebihan Teori belajar Humanisme
Kelemahan
dalam teori ini adalah apabila para peserta tidak terkontrol, siswa akan
mempunyai sikap egois yang tinggi, mereka inginkan tanpa batas, siswa tidak
mengetahui bahwa dirinya memililiki kepribadian yang unik. Karena dalam teori
belajar Humanisme ini siswa berperan penting sebagai pelaku utama (student
center) dan guru sebagai fasilitator, guru akan memberikan respons bila siswa
aktif dan menanggapi respons yang diberikan guru sehingga terjadi timbal balik.
Maka teori tidak cocok diterapkan bagi pesertaa didik yang pola pikirnya kurang
aktif (pasif), dimana mereka akan takut
atau malu untuk bertanya pada gurunya sehingga tidak ada timbal balik respon
antara guru dengan murid dan mengakibatkan dia akan tertinggal dari
teman-temannya yang aktif. Keberhasilan proses belajar dalam teori humanisme
ini lebih banyak ditentukan oleh peserta didik itu sendiri, peran guru dalam proses pembentukan dan
pendewasaan kepribadian siswa menjadi berkurang.
Kelemahan
lainnya adalah apabila peserta didik kesulitan dalam mengenali diri dan
mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri mereka, bersifat individual,
proses belajar tidak akan berhasil jika tidak ada motivasi dan lingkungan yang
mendukung, teori ini sukar digunakan dalam konteks yang lebihpraktis, dianggap
lebih dekat dengan dunia filsafat daripada dunia pendidikan.
Sedangkan untuk
kelebihan dalam pembelajaran pada teori ini siswa dituntut untuk berusaha agar
lambat laun mampu mencapai aktualisai diri dengan sebaik-baiknya.Selain
itu Teori humanistik mempunyai pengaruh yang signifikan pada ilmu
psikologi dan budaya populer. Sekarang ini banyak psikolog yang menerima
gagasan ini ketika teori tersebut membahas tentang kepribadian, pengalaman
subjektif manusiamempunyai bobot yang lebih tinggi daripada relitas.
BAB III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Teori
belajar Humanisme adalah teori belajar yang menyatakan bahwa tujuan belajar
adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar berhasil jika si pelajar
telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Tujuan utama para pendidikan
ialah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing
individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan
membantu mewujudkan potensi yang ada pada dirinya.
2. Belajar
menurut paham Humanisme adalah proses belajar yang bermakna adalah belajar yang
melibatkan pengalaman langsung, berpikir dan merasakan, atas kehendak sendiri
dan melibatkan seluruh pribadi peserta didik. Belajar yang bermakna tidak lain
adalah belajar yang dapat memenuhi kebutuhan nyata individu.
3. Implikasi
pembelajaran Humnisme adalah adanya sistem pendidikan yang hendaknya berpusat
pada peserta didik, artinya kurikulum, administrasi, kegiatan ekstrakurikuler
maupun kokurikulernya, sistem pengelolaannya harus dirumuskan dan dilaksanakan
demi kepentingan peserta didik, bukan demi kepentingan guru, sekolah atau
lembaga lain.
DAFTAR PUSTAKA
Atkinson, Rita L, dkk. 1999. Pengantar Psikologi Jilid 1. Jakarta:
Penerbit Erlangga. Hadis, Abdul. 2006. Psikologi Dalam Pendidikan. Bandung:
Alfabeta
Sobur, Alex. 2009. Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia.
Suryabrata, Sumadi.2004.Psikologi Pendidikan.Jakarta:PT Raja
Grafindo Persada.
Abdurrahman, Mas’ud. 2004. Menggagas
Format Pendidikan Nondikotomik, Humanisme Religius sebagai Paradigma Pendidikan
Islam. Yogyakarta: Gema Media
Haryanto, Al-Fandi. 2011. Desain
Pembelajaran yang Demokratis dan Humanis. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Di akses pada tanggal 28 September 2013 pukul 19:23 WIB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar