Senin, 03 Oktober 2016

SEJARAH FISIKA TEORI ATOM KLASIK

Atom berasal dari kata “a” yang berarti tidak dan kata “tomos” yang berarti potong, sehingga atom adalah satuan terkecil yang tidak bias dibadi. Selanjutnya satuan terkecil dalam sebuah zat disebut dengan atom. Atom terdiri dari electron(muatan negatif), proton(muatan positif) dan neutron(tidak bermuatan).
Perkembangan Teori Atom
1.     Demokritus
Konsep dasar tentang atom pertama diungkapkan oleh Demokritus (460-370 SM) ilmuan dari Yunani. la menggambarkan atom sebagai materi terkecil yang sedemikian kecilnya sehingga tidak dapat dibagi-bagi lagi. Inilah konsep tentang atom pertama yang tercatat oleh sejarah ilmu pengetahuan. Konsep tersebut lahir murni dari hasil pemikiran, dan bukan merupakan hasil percobaan
2.     Aristotele
Atom adalah suatu materi yang dapat dibagi-bagi secara terus-menerus atau sekecil-kecilnya tanpa batas.
3.     John Dalton
John Dalton pada tahun 1803 menemukakan pendapat yang didasarkan pada hukum kekekalan massa Lavoiser (Massa total zat-zat sebelum reaksi akan selalu sama dengan massa total zat-zat hasil reaksi)dan hukum susunan tetao Prouts (perbandingan masssa unsur dalam suatu senyawa selalu tetap)
Teori Dalton ada 5, yaitu :
a.     Unsur-unsur terdiri dari partikel-partikel yang luar biasa kecil yang tidak dapat dibagi kembali(disebut atom).Dalam reaksi kimia,mereka tidak dapat diciptakan,dihancurkan atau diubah menjadi jenis unsur yang lain.
b.    Semua atom dalam unsur yang sejenis adalah sama dan oleh karena itu memiliki sifat-sifat yang serupa;seperti massa dan ukuran.
c.     Atom dari unsur-unsur yang berbeda jenis memiliki sifat-sifat yang berbeda pula.
d.    Senyawa dapat dibentuk ketika lebih dari 1 jenis unsur yang digabungkan.
e.    Atom-atom dari 2 unsur atau lebih dapat direaksikan dalam perbandinganperbandingan yang berbeda untuk menghasilkan lebih dari 1 jenis senyawa.
Pendapat dari Dalton digambarkan dengan model atom sebagai bola yang pejal. 


Kelemahan Teori atom Dalton tidak dapat menerangkan suatu larutan dapat menghantarkan listrik.Bagaimana mungkin suatu bola pejal dapat menghantarkan listrik, padahal listrik adalah elektron yang bergerak. Berarti ada partikel lain yang dapat menyebabkan terjadinya daya hantar listrik.
4.     J.J Thomson
Dalam penelitiannya dia mempelajari bahwa tabung katoda pada kondisi vakum parsial (hampir vakum) yang diberi tegangan tinggi akan mengeluarkan “berkas sinar” dimana Thomson menyebut sinar ini sebagai “berkas sinar katoda” disebabkan berkas sinar ini berasal dari katoda (elektroda negatif). Berkas sinar katoda ini apabila didekatkan dengan medan listrik negative maka akan dibelokan (berkas sinar katoda ini tertolak oleh medan negative), berdasarkan hal ini maka Thomson menyatakan bahwa berkas sinar katoda itu adalah partikel-partikel yang bermuatan negative yang ia sebut sebagai “corpuscle”.Dia juga meyakini bahwa corpuscle itu berasal dari atom-atom logam yang dipakai sebagai elektroda pada tabung katoda. Dengan menggunakan jenis logam yang berbeda-beda sebagai elektroda yang dia gunakan pada tabung katoda maka percobaan Thomson tetap menghasilkan berkas sinar katoda yang sama. Akhirnya Thomson menyimpulkan bahwa setiap atom pasti tersusun atas corpuscle. Corpuscle yang ditemukan oleh Thomson ini kemudian disebut sebagai “electron” oleh G. Johnstone Stoney. Dari asumsi tersebut dia akhirnya meyakini bahwa atom sebenarnya tidak berbentuk masiv (berbentuk bulatan yang pejal) akan tetapi tersusun atas komponen-komponen penyususn atom. Di alam atom berada dalam keadaan yang stabil dan memiliki muatan yang netral, dengan demikian Thomson lebih lanjut mengasumsikan bahwa didalam atom itu sendiri pasti terdapat bagian yang bermuatan positif. Dari asumsi tersebut maka Thomson mengajukan struktur atom sebagai bulatan awan bermuatan posistif dengan elektron yang terdistribusi random di dalamnya. 
5.     Rutherford
Eksperimen yang dilakukan Rutherford adalah penembakan lempeng tipis dengan partikel alpha. Ternyata partikel itu ada yang diteruskan, dibelokkan atau dipantulkan. Berarti di dalam atom terdapat susunan-susunan partikel bermuatan positif dan negatif. 
Hipotesa dari Rutherford adalah atom yang tersusun dari inti atom dan elektron yang mengelilinginya. Inti atom bermuatan positif dan massa atom terpusat pada inti atom. Kelemahan dari Rutherford tidak dapat menjelaskan mengapa elektron tidak jatuh ke dalam inti atom. Berdasarkan teori fisika, gerakan elektron mengitari inti ini disertai pemancaran energi sehingga lama - kelamaan energi elektron akan berkurang dan lintasannya makin lama akan mendekati inti dan jatuh ke dalam inti
6.     Neils Bohr

Kelemahan dari Rutherford diperbaiki oleh Niels Bohr dengan percobaannya menganalisa spektrum warna dari atom hidrogen yang berbentuk garis. 

Hipotesis Bohr adalah :
a.      Atom terdiri dari inti yang bermuatan positif dan dikelilingi oleh elektron yang bermuatan negatif di dalam suatu lintasan.
b.      Elektron dapat berpindah dari satu lintasan ke yang lain dengan menyerap atau memancarkan energi sehingga energi elektron atom itu tidak akan berkurang. 
Jika berpindah lintasan ke lintasan yang lebih tinggi maka elektron akan menyerap energi. Jika beralih ke lintasan yang lebih rendah maka akan memancarkan energi.
Kelebihan atom Bohr adalah bahwa atom terdiri dari beberapa kulit untuk tempat berpindahnya elektron. Kelemahan model atom ini adalah: tidak dapat menjelaskan spekrum warna dari atom berelektron banyak. Sehingga diperlukan model atom yang lebih sempurna dari model atom Bohr.



Referensi
Rosyid, Muhammad Farchani. dkk. Kajian Konsep Fisika 3.Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.2008.


TEORI BELAJAR HUMANISME

BAB I
PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang
Aliran humanistik  muncul pada tahun 90-an sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap pendekatan psikoanalisa dan behabvioristik. Sebagai sebuah aliran dalam psikologi, aliran ini boleh dikatakan relative masih muda, bahkan beberapa ahlinya masih hidup dan terus-menerus mengeluarkan konsep yag relevan dengan bidang pengkajian psikologi, yang sangat menekankan pentingnya kesadaran, aktualisasi diri, dan ha-hal yang bersifat positif tentang manusia.
Pengertian humanistik yang beragam membuat batasan-batasan aplikasinya dalam dunia pendidikan yang beragam pula. Teori humanisme menyatakan bahwa bagian terpenting dalam proses pembelajaran adalah unsure manusianya. Humanisme lebih melihat sisi perkembangan kepribadian manusia dibandingkan berfokus pada “ketidaknormala”atau “sakit”.manusia akan mempunyai kemampuan positif untuk menyembuhkan diri dari “sakit” tersebut, sehingga sisi positif inilah yang ingin dikembangkan oleh teori humanistik.
Teori belajar humanistik bertujuan bahwa belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika telah memhami lingkungan dan dirinya sendiri. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya bukan dati sudut pandang pengamatnya. Teori belajar ini sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang ilmu filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi dibanding tentang psikologi belajar. Teori humanisme lebih mementingkan isi yang dipelajari dari pada proses belajar itu sendiri. Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep pendidikan unttuk membentuk manusia yang dicita-citakan serta tentang proses belajar dalam bentuk yang paling ideal.
 Selain teori behavioristik dan teori kognitif, teori belajar humanisme juga perlu untuk dipahami. Menurut teori humanisme, proses belajar harus dimulai dan ditunjukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, teori humanisme sifatnya lebih abstrak dan mendekati bidang kajian filsafat, teori kepribadian, dan psikoterapi dari pada bidang kajian psikologi belajar. Teori humanisme sangat mementingkan isi yang dipelajari daripada proses belajar itu sendiri. Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan, serta tentang proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik pada pemahaman tentang prosesbelajar sebagaimana apa adanya, seperti yang selama ini dikaji oleh teori-teori belajar lainnya.
1.2         Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan teori belajar humanistik ?
2.      Bagaimana teori belajar humanistik menurut para tokoh ?
3.      Bagaimana implikasi teori belajar humanistik ?
4.      Bagaimana aplikasi teori humanistik terhadap pembelajaran siswa ?
5.      Bagaimana manfaat teori belajar humanistik ?
6.      Bagaimana kelemahan dan kelebihan teori belajar humanistik ?

1.3         Tujuan Masalah
1.      Mengetahui pengertian teori belajar humanistik
2.      Mengetahui dan memahami teori belajar humanistik menurut para tokoh
3.      Mengetahui implikasi teori belajar humanistik
4.      Mengetahui aplikasi teori humanistik terhadap pembelajaran siswa
5.      Mengetahui manfaat teori belajar humanistik
6.      Mengetahui kelemahan dan kelebihan teori belajar humanistik









BAB II
PEMBAHASAN
2.1         Pengertian Teori Humanistik
Humanisme berasal dari latin, humanis; manusia, dan isme berarti pahamatau aliran. Mangun Harjana mengatakan, pengertian humanisme adalah pandangan yang menekankan martabat manusia dan kemampuannya. Menurut pandangan ini manusia bermartabat luhur, mampu menentukan nasib sendiri dan dengan kekuatan sendiri mampu mengembangkan diri dan memenuhi kepatuhan sendiri mampu mengembangkan diri dan memenuhi kepenuhan eksistensinya menjadi paripurna.
Dari segi bahasa humanisme artinya kemanusiaan, sedangkan menurut Istilah berarti suatu paham mengenai kemanusiaan yang hakiki. Jelasnya, humanisme adalah suatu gerakan atau aliran yang bertujuan untuk menempatkan manusia pada posisi kemanusiaan yang sebenarnya. Jika dalam dunia pendidikan, para pendidik harus membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantunya dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada pada diri mereka (Hamachek, 1977)[1].
Teori pendidikan adalah merupakan suatu pandangan atau serangkaian pendapat ihwal pendidikan yang diidealkan yang disajikan dalam bentuk sebuah sistem konsep dan dalil. Ada juga yang mengatakan teori pendidikan adalah serangkaian konstruk (konsep), definisi, asumsi dan proposisi tentang cara merubah sikap dan tingkah laku seseorang dalam rangka mewujudkan manusia yang adil dan beradab.
Teori Humanistik lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia atau individu.Psikolog humanistik mencoba untuk melihat kehidupan manusia sebagaimana manusia melihat kehidupan mereka. Mereka berfokus pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional untuk dalam mengendalikan hasrat biologisnya, serta dalam meraih potensi maksimal mereka. Dalam pandangan humanistik, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.
Menurut para tokoh aliran ini penyusunan dan pemilihan materi pelajaran harus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa. Tujuan utama pendidik adalah membantu siswa mengembangkan dirinya yaitu membantu individu untuk mengenal dirinya sendiri sebagai manusia secara utuh dan membantu mengembangkan potensi dan keterampilan mereka. Para ahli humanistikk melihat adanya dua bagian pada proses belajar yaitu proses pemerolehan informasi baru dan internalisasi informasi ini pada individu. Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Pengertian humanistik yang beragam membuat batasan-batasan aplikasinya dalam dunia pendidikan mengundang berbagai macam arti pula.Para ahlihumanistikmelihatadanyaduabagianpada proses belajar, ialah : proses pemerolehan informasi baru dan personalia informasi ini pada individu.
Perhatian Psikologi Humanistik yang utama tertuju pada masalah bagaimana setiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Menurut para pendidik aliran humanistik, penyusunan dan penyajian materi pelajaran harus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa.

2.2         Para Tokoh Pelopor Teori Humanistik
Perspektif psikologi baru yang dipelopori oleh beberapa orang yang mengembangkan ilmu psikologi muncul pada tahun 1940. Perkembangan gerakan ini cukup pesat sehingga di kenal dengan Psikologi Humanistik. Psikologi Humanistik sendiri lebih menitik beratkan terhadap individu seseorang.
Aliran Humanistik muncul dalam kisaran tahun 1960-1972. Kemudian muncul beberapa perubahan dan inovasi baru sampai dekade terakhir. Adapun tokoh – tokoh yang mempelopori psikologi humanistik yang digunakan sebagai teori belajar humanisme sebagai berikut :
1.             Abraham Maslow
Maslow percaya bahwa manusia bergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang paling di kenal adalah teori tentang Hierarchy of Needs ( Hirarki kebutuhan ). Dia mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri orang memiliki rasa takut yang dapat membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan. Manusia juga bermotivasi untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan hidupnya. Kebutuhan – kebutuhan tersebut memiliki hirarki ( tingkatan ) mulai dari yang rendah sampai yang tinggi.
Sebagian besar dari teorinya yang penting didasarkan atas asumsi bahwa dalam diri manusia ada dua hal:
·         Suatu usaha yang positif untuk berkembang.
·         Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu (Maslov, 1968)

2.             Arthur Combs
Bersama dengan Donald Syngg ( 1904 – 1967 ) mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan. Meaning ( makna atau arti ) konsep sering yang di gunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak di sukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Untuk itu guru harus memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut, sehingga apabila merubah perilakunya, seorang guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada.
Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidak menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang terpenting adalah bagaimana membawa siswa untuk memperoleh arti bagi kepribadiannya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkan dalam kehidupan. Combs memberikan persepsi diri dan dunia seseorang seperti dua lingkaran ( kecil dan besar ).

3.             Carl Roger
Adalah seorang psikolog humanistik yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka dalam membantu mengatasi masalah – masalah kehidupannya.[2] Menurutnya hal yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran yaitu :
·      Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal – hal yang tidak ada artinya.
·      Siswa akan mempelajari hal – hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
·      Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bahan yang bermakna bagi siswa.
·      Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.
Dari bukunya Freedom to learn, ia menunjukan sejumlah prinsip – prinsip yang terpenting adalah :
·       Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
·      Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud – maksud tersendiri.
·      Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri di anggap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
·      Belajar yang bermakna di peroleh siswa dengan melakukanya.
·      Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggung jawab terhadap proses belajar itu.
Bagaimana proses belajar dapat terjadi menurut teori belajar humanisme? Orang balajar karena ingin mengetahui dunianya. Individu memilih sesuatu untuk dipelajari, mengusahakan proses belajar dengan caranya sendiri, dan menilainya sendiri tentang apakah proses belajarnya berhasil.

4.      Bloom dan Krathwohl
Dalam hal ini, Bloom dan Krathwohl menunjukkan apa yang mungkin dikuasai (dipelajari) oleh siswa, yang tercakup dalam tiga kawasan berikut:
a)        Kognitif
Kognitif terdiri dari tiga tingkatan:
1.    Pengetahuan ( mengingat, menghafal );
2.    Pemahaman ( menginterpretasikan );
3.    Aplikasi ( menggunakan konsep untuk memecahkan suatu masalah );
4.    Analisis ( menjabarkan suatu konsep );
5.    Sintesis ( menggabungkan bagian konsep menjadi suatu konsep utuh);
6.    Evaluasi ( membandingkan ide, nilai, metode, dsb ).

b)        Psikomotor
Psikomotor terdiri dari lima tingkatan, yaitu:
a.     Peniruan ( menirukan gerak );
b.    Penggunaan ( menggunakan konsep untuk melakukan gerak );
c.     Ketepatan ( melakukan gerak dengan benar );
d.     Perangkaian ( melakukan beberapa gerakan sekaligus dengan benar );
e.     Naturalisasi ( melakukan gerak secara wajar ).

c)        Afektif
Afektif terdiri dari lima tingkatan, yaitu:
a.      Pengenalan ( ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu );
b.      Merespon ( aktif berpartisipasi );
c.      Penghargaan ( menerima nilai-nilai, setia kepada nilai-nilai tertentu);
d.      Pengorganisasian ( menghubungkan nilai-nilai yang dipercayai );
e.      Pengalaman ( menjadikan nilai sebagai bagian dari pola hidup ).

5.             Kolb
Sementara itu, Kolb membagi tahapan belajar menjadi empat tahap, yaitu:
a.         Pengalaman konkret
Pada tahap ini seorang siswa hanya mampu sekedar ikut mengalami suatu kejadian. Dia belum mempunyai kesadaran tentang hakikat kejadian tersebut. Dia pun belum mengerti bagaimana dan mengapa suatu kejadian harus terjadi seperti itu.
b.        Pengalaman aktif dan reflektif
Siswa lambat laun mampu mengadakan observasi aktif terhadap kejadian itu, serta mulai berusaha memikirkan dan memahaminya.
c.         Konseptualisasi
Siswa mulai belajar untuk membuat abstraksi atau “teori” tentang sesuatu hal yang pernah diamatinya. Pada tahap ini siswa diharapkan sudah mampu untuk membuat aturan-aturan umum ( generalisasi ) dari berbagai contoh kejadian yang meskipun tampak berbeda-beda, tetapi mempunyai landasan aturan yang sama.
d.        Eksperimentasi aktif
Siswa sudah mampu mengaplikasikan suatu aturan umum ke situasi yang baru. Dalam dunia matematika misalnya, siswa tidak hanya memahami “ asal-usul” sebuah rumus, tetapi ia juga mampu memakai rumus tersebut untuk memecahkan suatu masalah yang belum pernah ia temui sebelumnya.

6.             Honey dan Mumford
Berdasarkan teori Kolb ini, Honey dan Mumford menggolongkan siswa menjadi empat tipe, yakni:
a.    Aktivis
Ciri dari siswa ini adalah suka melibatkan diri pada pengalaman-pengalaman baru dan cenderung berpikiran terbuka serta mudah diajak berdialog. Namun, siswa seperti ini biasanya kurang skeptis terhadap sesuatu. Dalam belajar mereka menyukai metode yang mampu mendorong seseorang menemukan hal-hal baru, seperti brainstorming atau problem solving. Akan tetapi mereka cepat merasa bosan dengan hal-hal yang perlu waktu lama dalam implementasi.
b.    Reflektor
Siswa tipe ini cenderung sangat berhati-hati mengambil langkah sehingga dalam mengambil keputusan mereka lebih suka menimbang-nimbang secara cermat baik buruknya.
c.    Teoris
Siswa tipe ini biasanya sangat kritis, senang menganalisis, dan tidak menyukai pendapat atau penilaian yang sifatnya subjektif. Berpikir rasional adalah sangat penting. Dan mereka cenderung sangat skeptis dan tidak suka hal-hal yang spekulatif.
d.        Pragmatis
Siswa pada tipe ini menaruh perhatian besar pada aspek-aspek praktis dari segala hal. Bagi mereka teori memang penting, tapi tidak akan berguna jika tidak dipraktekkan.

2.3         Implikasi Teori Belajar Humanistik Carl Rogers
Menurut Wahyudin (2009), Psikologi humanistik Carl Rogers memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator. Berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas fasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa (petunjuk):
1.        Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas.
2.        Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
3.        Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
4.        Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
5.        Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
6.        Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok.
7.        Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-angsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
8.        Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa .
9.        Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar.
10.    Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk mengenali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.
Berikut salah satu contoh Implikasi teori belajar humanistik Rogers terhadap metode pembelajaran sains dimana dalam pembelajaran sains lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan dalam proses pembelajaran sains yang lebih menekankan pada pembawaan metodenya. Seperti metode tanya jawab, metode diskusi, metode pemecahan masalah, dan metode demonstrasi. Sehingga posisi guru menjadi fasilitator, motivator, dan stimulator. Guru hanya memfasilitasi pembelajaran peserta didiknya untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Wartawarga (2009) mengemukakan Kelemahan atau kekurangan pandangan Rogers terletak pada perhatiannya yang semata – mata melihat kehidupan diri sendiri dan bukan pada bantuan untuk pertumbuhan serta perkembangan orang lain. Rogers berpandangan bahwa orang yang berfungsi sepenuhnya tampaknya merupakan pusat dari dunia, bukan seorang partisipan yang berinteraksi dan bertanggung jawab di dalamnya.
Selain itu gagasan bahwa seseorang harus dapat memberikan respon secara realistis terhadap dunia sekitarnya masih sangat sulit diterima. Semua orang tidak bisa melepaskan subyektivitas dalam memandang dunia karena kita sendiri tidak tahu dunia itu secara obyektif. Rogers juga mengabaikan aspek-aspek tidak sadar dalam tingkah laku manusia lebih melihat pada pengalaman masa sekarang dan masa depan, bukannya pada masa lampau yang biasanya penuh dengan pengalaman traumatik yang menyebabkan seseorang mengalami suatu penyakit psikologis.

2.4         Aplikasi Teori Humanistik terhadap Pembelajaran Siswa
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
1.        Merumuskan tujuan belajar yang jelas.
2.        Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif.
3.        Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri.
4.        Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri.
5.        Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan.
6.        Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
7.        Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya.
8.        Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa.

Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.
2.5         Manfaat Teori Belajar Humanistik
Tujuan belajar menurut teori belajar Humanistik adalah untuk memanusiakan manusia sehingga tugas utama para pendidik ialah membantu para siswa-siswinya untuk mengembangkan potensi diri para siswa, para pendidik membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang mereka miliki sehingga pada akhirnya para siswa dituntut untuk berusaha agar lambat laun mampu mencapai aktualisai diri dengan sebaik-baiknya.Teori humanisme dapat memanfaatkan teori belajar apapun asal tujuannya memanusiakan manusia yang membuat teori belajar Humanisme bersifat sangan eklektik, maksudnya elektisisme suatu sistem yang membiarkan unsur-unsur  tersebut dalam keadaan sebagaimana adanya atau aslinya sehingga teori humanisme ini akan memanfaatkan teori-teori apapun asal tujuanya tercapai yaitu memanusiakan manusia.
Para ahli psikologi humanisme ini melihat dua bagian belajar, yaitu diperoleh informasi baru yang mana dapat membuat peserta didik atau siswa tertarik dan membut para siswa bersemangat apabila dalam belajar ini akan ada suatu informasi yang baru yang bermakna dan bermanfaat bagi para siswa. Kedua adalah personalisasi informasi baru dimana informasi baru yang dipahami peserta didik itu bukan hasil transfer langsung dari guru ke para siswa namun para siswa sendirilah yang mengolah apa yang disampaikan oleh guru menjadi sesuai dan bermakna sehingga peran pendidik disini adalah sebagai pembimbing yang mengarahkan.
Menurut Carl R. Rogers berdasarkan prinsip-prinsip belajar yang dikemukakannya, manfaat teori belajar humanisme ini akan membuat hasrat alamiah manusia untuk belajar lebih tinggi karena mereka diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungan dan membuat rasa keingintauannya tinggi. Kelebihan teori belajar humanistik cocok untuk di terapkan dalam materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan pribadi, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilannya adalah siswa merasa senang bergairah berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir perilaku atas kemauan sendiri.
Dalam teori belajar humanisme juga menitikberatkan pada metode student-centered,dengan mengaplikasikan "komunikasi antar pribadi"  yang berpusat pada peserta didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki peserta didik agar dapat memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam suatu kehidupan. Jadi yang terpenting bukan hasil dari belajar melainkan proses suasana (emotional approach) dalam pembelajaran tersebut, jadi para siswa dapat belajar tidak hanya dengan mendengar penjelasan guru, namun dapat juga dengan melihat, menyentuh, merasakan dan mengikuti keseluruhan proses dari setiap pembelajaran.  Seorang pendidik harus lebih responsif terhadap kebutuhan kasih sayang dalam proses pendidikan agar menciptakan perasaan gembira, tidak tertekan, nyaman adalah hal yang dinginkan dalam proses pembelajaran. (Wahyudin, 2009).
Manfaat yang didapat dari menerapkan teori ini adalah peserta didik dapat belajar atas inisiatif sendiri dan melibatkan perasaan si pelajar sehingga memberikan motivasi dan mengulurkan kesempatan kepada para siswa untuk  “belajar bagaimana caranya belajar” (to learn how to learn). Meningkatkan kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, diarahkan untuk belajar secara aktif, peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri, menghargai kelebihan dan memahami kekurangan pada dirinya, siswa bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan, siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin atau etika yang berlaku.
Disini para siswa belajar tidak untuk mengejar nilai, namun lebih untuk memanfaatkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Menjadikan peserta didik memiliki logika berpikir yang baik, mencermati alam lingkungannya menjadi media belajarnya dengan metode action learning dan diskusi. Para siswa dapat belajar dari alam sekitarnya tidak hanya belajar di kelas dan dari buku namun bisa belajar dari mana saja.
Dengan sistem belajar dalam sekolah alam yang telah membiasakan mereka untuk belajar secara aktif dan mandiri, membuat guru lebih mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar. Hal ini dapat diterapkan melalui kegiatan diskusi, membahas materi secara berkelompok sehingga siswa dapat mengemukakan pendapatnya masing-masing di depan kelas. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya apabila kurang mengerti terhadap materi yang diajarkan.Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. (Sanusi, 2009)

2.6         Kelemahan dan Kelebihan Teori belajar Humanisme
Kelemahan dalam teori ini adalah apabila para peserta tidak terkontrol, siswa akan mempunyai sikap egois yang tinggi, mereka inginkan tanpa batas, siswa tidak mengetahui bahwa dirinya memililiki kepribadian yang unik. Karena dalam teori belajar Humanisme ini siswa berperan penting sebagai pelaku utama (student center) dan guru sebagai fasilitator, guru akan memberikan respons bila siswa aktif dan menanggapi respons yang diberikan guru sehingga terjadi timbal balik. Maka teori tidak cocok diterapkan bagi pesertaa didik yang pola pikirnya kurang aktif (pasif), dimana mereka  akan takut atau malu untuk bertanya pada gurunya sehingga tidak ada timbal balik respon antara guru dengan murid dan mengakibatkan dia akan tertinggal dari teman-temannya yang aktif. Keberhasilan proses belajar dalam teori humanisme ini lebih banyak ditentukan oleh peserta didik itu sendiri,  peran guru dalam proses pembentukan dan pendewasaan kepribadian siswa menjadi berkurang.
Kelemahan lainnya adalah apabila peserta didik kesulitan dalam mengenali diri dan mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri mereka, bersifat individual, proses belajar tidak akan berhasil jika tidak ada motivasi dan lingkungan yang mendukung, teori ini sukar digunakan dalam konteks yang lebihpraktis, dianggap lebih dekat dengan dunia filsafat daripada dunia pendidikan.
Sedangkan untuk kelebihan dalam pembelajaran pada teori ini siswa dituntut untuk berusaha agar lambat laun mampu mencapai aktualisai diri dengan sebaik-baiknya.Selain itu Teori humanistik mempunyai pengaruh yang signifikan pada ilmu psikologi dan budaya populer. Sekarang ini banyak psikolog yang menerima gagasan ini ketika teori tersebut membahas tentang kepribadian, pengalaman subjektif manusiamempunyai bobot yang lebih tinggi daripada relitas.




BAB III
PENUTUP
3.1.  Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa:

1. Teori belajar Humanisme adalah teori belajar yang menyatakan bahwa tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar berhasil jika si pelajar telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Tujuan utama para pendidikan ialah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu mewujudkan potensi yang ada pada dirinya.

2. Belajar menurut paham Humanisme adalah proses belajar yang bermakna adalah belajar yang melibatkan pengalaman langsung, berpikir dan merasakan, atas kehendak sendiri dan melibatkan seluruh pribadi peserta didik. Belajar yang bermakna tidak lain adalah belajar yang dapat memenuhi kebutuhan nyata individu.

3. Implikasi pembelajaran Humnisme adalah adanya sistem pendidikan yang hendaknya berpusat pada peserta didik, artinya kurikulum, administrasi, kegiatan ekstrakurikuler maupun kokurikulernya, sistem pengelolaannya harus dirumuskan dan dilaksanakan demi kepentingan peserta didik, bukan demi kepentingan guru, sekolah atau lembaga lain.







DAFTAR PUSTAKA
Atkinson, Rita L, dkk. 1999. Pengantar Psikologi Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga. Hadis, Abdul. 2006. Psikologi Dalam Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Sobur, Alex. 2009. Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia.
Suryabrata, Sumadi.2004.Psikologi Pendidikan.Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.
Abdurrahman, Mas’ud. 2004. Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik, Humanisme Religius sebagai Paradigma Pendidikan Islam. Yogyakarta: Gema Media
Haryanto, Al-Fandi. 2011. Desain Pembelajaran yang Demokratis dan Humanis. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Di akses pada tanggal 28 September 2013 pukul 19:23 WIB.



[1]Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan (Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan), Jakarta: Rineka Cipta, 1998.

[2] Abdul Hadis, Psikologi Dalam Pendidikan ( Bandung: Alfabeta, 2006 ), 71.